- PENGERTIAN ILMU MA’ANI
Kata ma’ani (معانى) adalah bentuk jamak dari
kata ma’na (معنى). Secara bahasa kata
ma’ani berarti maksud atau arti. Para ilmu ahli ma’ani mendefinisikannya
sebagai pengungkapan melalui ucapan tentang sesuatu yang ada dalam pikiran atau
disebut juga sebagai gambaran dari pikiran.
Sedangkan
menurut istilah, ilmu ma’ani adalah ilmu yang mempelajari hal ihwal
lafazh atau kata bahasa arab yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi.
- PEMBAGIAN ILMU MA’ANI
Kalam
dalam bidang ilmu ma’ani terbagi menjadi dua yaitu kalam khabari dan kalam isya’.
Adapun cara penulisannya adalah dengan cara menjelaskan terlebih dahulu kalam
khabar, kemudian kalam insya’ secara terpisah agar lebih mudah dalam pemahaman
dan lebih sistematis dalam susunan.
1. Pengertian Kalam
Insya’i
Kalam
insya’ adalah kalimat yang pembicaranya tidak dapat disebut sebagai orang
yang benar ataupun sebagai orang yang dusta.
Contoh:
Fatwa
Al-Hasan r.a.
لا
تطلب من الجزاء إلا بقدر ما صنعت
"janganlah
kau menuntut balasan kecuali senilai apa yang kamu kerjakan".
Ash-shimmah
bin Abdullah berkata:
بنفسي
تلك الارض م أطيب الربا !
و
ما أحسن المصطاف و المتربعا !
"Demi
diriku, alangkah baiknya bumi yang tinggi itu dan alangkah indahnya sebagai
tempat peristirahatan di musim panas dan musim semi".
Dua
contoh diatas adalah kalam insya’ karena keduanya tidak mengandung
pengertian membenarkan dan tidak pula mendustakan. Contoh pertama adalah
kalimat-kalimat yang digunakan untuk menghendaki keberhasilan sesuatu yang
belum berhasil pada saat kehendak itu dikemukakan. Oleh karena itu, kalam insya
yang demikian disebut sebagai insya thalab’ sedangkan contoh yang
kedua tidak digunakan untuk menghendaki terjadinya sesuatu, dan oleh
karenanya disebut sebagai insya’ ghair thalabi.
2. PEMBAGIAN KALAM
INSYA’
Kalam
insya’ terbagi menjadi dua yaitu:
A. Insya’
Thalabi
Kalam
Insya’ Thalabi adalah kalimat yang menghendaki terjadinya sesuatu yang
belum terjadi pada waktu kalimat itu diucapkan.
B. Insya’
Ghair Thalabi
Kalam
Insya’ Ghair Thalabi adalah kalimat yang tidak menghendaki terjadinya
sesuatu. Kalam jenis ini tidak menghendaki terjadinya sesuatu. Kalam jenis ini
banyak bentuknya, antara lain ta’ajjub ( kata untuk menyatakan pujian
), adz-dzamm(kata untuk menyatakan celaan), qasam, kata-kata yang
diawali dengan dengan af’alur raja, dan demikian pula kata-kata yang
mengandung makna akad ( transaksi ).
Contoh:
Ash-Shimmah
bin Abdullah berkata:
بنفسي
تلك الارض م أطيب الربا !
و
ما أحسن المصطاف و المتربعا !
Demi
diriku, alangkah baiknya bumi yang tinggi itu dan alangkah indahnya sebagai
tempat peristirahatan di musim panas dan musim semi.
نعم الكريم حائم…. وبئس البخيل مادر
- Shiyaghu al-’Uqûd. kebanyakan menggunakan shîghah fi’il madhi, contoh:
بعتك هذا ووهبتك ذاك
- al-Qasam, menggunakan wawu, ba’, ta’ dan lain sebagainya, contoh:
لعمرك ما فعلت كذا
- Ta’ajjub, biasanya berisi dua pernyataan yang berkebalikan, contoh:
كيف تكفرون بالله وكنتم أمواتا فأحياكم (البقرة
28
o
Raja’, biasanya menggunakan, ‘asâ,
hariyyu (la’alla) dan ikhlaulaqa, contoh:
عسى الله أن يأتي بالفتح
Insya’ Ghairu thalabi biasanya tidak dibahas Ulama Balâghah
karena kebanyakan bentuknya pada dasarnya merupakan kalâm khabar yang
berlawanan dengan kalâm insya’. (Ahmad Hasyimi, 1960. 6)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar