Kamis, 12 Desember 2019

insya' gairu thalibi pada ilmu balagha

  1. PENGERTIAN ILMU MA’ANI
Kata ma’ani (معانى) adalah bentuk jamak dari kata ma’na (معنى). Secara bahasa kata ma’ani berarti maksud atau arti. Para ilmu ahli ma’ani mendefinisikannya sebagai pengungkapan melalui ucapan tentang sesuatu yang ada dalam pikiran atau disebut juga sebagai gambaran dari pikiran.
Sedangkan menurut istilah, ilmu ma’ani adalah ilmu yang mempelajari hal ihwal lafazh atau kata bahasa arab yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi. 
 
  1. PEMBAGIAN ILMU MA’ANI
        Kalam dalam bidang ilmu ma’ani terbagi menjadi dua yaitu kalam khabari dan kalam isya’. Adapun cara penulisannya adalah dengan cara menjelaskan terlebih dahulu kalam khabar, kemudian kalam insya’ secara terpisah agar lebih mudah dalam pemahaman dan lebih sistematis dalam susunan.
1. Pengertian Kalam Insya’i
     Kalam insya’ adalah kalimat yang pembicaranya tidak dapat disebut sebagai orang yang benar ataupun sebagai orang yang dusta.
Contoh:
Fatwa Al-Hasan r.a.
لا تطلب من الجزاء إلا بقدر ما صنعت
"janganlah kau menuntut balasan kecuali senilai apa yang kamu kerjakan".
Ash-shimmah bin Abdullah berkata:
بنفسي تلك الارض م أطيب الربا !
و ما أحسن المصطاف و المتربعا !
"Demi diriku, alangkah baiknya bumi yang tinggi itu dan alangkah indahnya sebagai tempat peristirahatan di musim panas dan musim semi".
      Dua contoh diatas adalah kalam insya’ karena keduanya tidak mengandung pengertian membenarkan dan tidak pula mendustakan. Contoh pertama adalah kalimat-kalimat yang digunakan untuk menghendaki keberhasilan sesuatu yang belum berhasil pada saat kehendak itu dikemukakan. Oleh karena itu, kalam insya yang demikian disebut sebagai insya thalab’ sedangkan contoh yang kedua  tidak digunakan untuk menghendaki terjadinya sesuatu, dan oleh karenanya disebut sebagai insya’ ghair thalabi.
2. PEMBAGIAN KALAM INSYA’
   Kalam insya’ terbagi menjadi dua yaitu:
A. Insya’ Thalabi
Kalam Insya’ Thalabi adalah kalimat yang menghendaki terjadinya sesuatu yang belum terjadi pada waktu kalimat itu diucapkan.
B. Insya’ Ghair Thalabi
Kalam Insya’ Ghair Thalabi adalah kalimat yang tidak menghendaki terjadinya sesuatu. Kalam jenis ini tidak menghendaki terjadinya sesuatu. Kalam jenis ini banyak bentuknya, antara lain ta’ajjub ( kata untuk menyatakan pujian ), adz-dzamm(kata untuk menyatakan celaan), qasam, kata-kata yang diawali dengan dengan af’alur raja, dan demikian pula kata-kata yang mengandung makna akad ( transaksi ).
Contoh:
Ash-Shimmah bin Abdullah berkata:
بنفسي تلك الارض م أطيب الربا !
و ما أحسن المصطاف و المتربعا !
Demi diriku, alangkah baiknya bumi yang tinggi itu dan alangkah indahnya sebagai tempat peristirahatan di musim panas dan musim semi.
نعم الكريم حائم….  وبئس البخيل مادر
  • Shiyaghu al-’Uqûd. kebanyakan menggunakan shîghah fi’il madhi, contoh:
بعتك هذا ووهبتك ذاك
  • al-Qasam, menggunakan wawu, ba’, ta’ dan lain sebagainya, contoh:
لعمرك ما فعلت كذا
  • Ta’ajjub, biasanya berisi dua pernyataan yang berkebalikan, contoh:
كيف تكفرون بالله وكنتم أمواتا فأحياكم (البقرة 28
o    Raja’, biasanya menggunakan, ‘asâ, hariyyu (la’alla) dan ikhlaulaqa, contoh:
عسى الله أن يأتي بالفتح
Insya’ Ghairu thalabi biasanya tidak dibahas Ulama Balâghah karena kebanyakan bentuknya pada dasarnya merupakan kalâm khabar yang berlawanan dengan kalâm insya’. (Ahmad Hasyimi, 1960. 6)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar